Dialog antara Malaikat dan Iblis
Suatu hari saya terjaga lebih cepat dari biasanya. Jam di dinding belum lagi menunjukkan waktu sholat Subuh. Saya bangun cepat bukan karena malamnya tidur lebih awal. Justru kemarin saya sangat sibuk, berangkat kerja sebelum pukul 06.00 pagi dan pulang di atas pukul 23.00 malam. Hari yang melelahkan memang.
Singkat kata, pas lagi enak-enaknya menikmati sejuknya kasur diantara sadar dan tidur, sayup-sayup saya mendengar suara samar dalam kepala saya. Seperti suara dua orang yang sedang bercakap-cakap. Saya kenal suara itu. Itu adalah suara dua mahluk yang selalu menemani saya kapanpun dan dimanapun.
Orang-orang biasanya menyebut mereka sebagai Malaikat dan Iblis. Saya sendiri memberi nama mereka “Usman” dan “Ruslan”. Usman si Malaikat dan Ruslan si Iblis. Kalo ada kesamaan nama dengan Anda, itu cuma kebetulan saja. Yang saya maksud bukan Anda. Saya cuma iseng saja kok kasih nama.
Saya pun menajamkan pendengaran saya. Dan inilah dialog diantara mereka…
Malaikat (M): Assalamu alaikum wr wb. Bos, mumpung sudah bangun mending sekalian bangkit, wudhu, trus Tahajud sana…
Iblis (I): Ih, berisik. Si Bos masih mau tidur. Capek tahu! Ko ndak lihatkah kemarin jam kerjanya gila-gilaan?
M: Ya lihat lah, sy kan punya mata. Punya sayap pula. Kan kita bareng kemarin. Tapi mumpung sudah terjaga, trus belum masuk waktu Subuh…ya daripada ngulet-ngulet ndak jelas begitu mending Tahajud. Lagipula sudah beberapa hari si Bos ndak pernah Tahajud lagi.
I: Ya ndak apa-apa kalleeee…kan cuma ibadah sunnat.
M: Banyak bacot lu! Biar ibadah sunnat kan pahalanya gede!
I: Tapi kan ndak wajib! Ndak Tahajud juga ndak dosa. Weeeek…
M: Itu sih anak kecil juga tahu. Dasar setan lu, pengaruh buruk…
I: Eh, jangan sembarangan ngata2in orang. Dosa tau! Saya bukan setan, saya ini Iblis! Setan itu amatiran, saya profesional. Tau ndak, banyak setan yang pengen jadi seperti saya.
M: Idih, bangga…
I: Ya iyalah. Seleksinya ketat brur, kalo pengen jadi Iblis! Dan ko tahu, saya termasuk iblis senior. Bulan depan genap 5000 tahun saya ngiblis. Keren kan?
M: 5000 tahun??? Wow, lama bo!
I: Nah, sekarang lu kaget…
M: Iyalah kaget. Maksudku, 5000 tahun ko jadi Iblis ndak naik-naik pangkat? Ngapain aja lu, betah amat?
I: Cerewet!!!
M: Gimana ceritanya tuh, kenapa kariermu lambat sekali?
I: Gara2nya, saya sempat depresi beberapa ribu tahun, choy. Ada problem pribadi sih waktu itu. Eh, Astagfirullah…hampir saya curcol ndak sengaja! Pokoknya ceritanya panjang dan itu bukan urusanmu!!!
M: Depresi? Pasti gara-gara ko malas kerja toh?
I: Enak aja! Saya Iblis teladan, you know?!
M: Berarti gara-gara narkoba?
I: Ih, jijay…
M: Korupsi ko barangkali?
I: Emangnya saya manusia!
M: Atau gara-gara cewek?
I: …..
M: Betul toh? Pasti ko depresi perkara wanita!
I: …..
M: Aha! Sudah kuduga!!!
I: BISA DIAM NDAK???!!!
M: Wakakakakakakakakak
Saya: Hahahahahahahaha...
M: Eh, si Bos ketawa. Bangun Bos, Tahajud…
I: Belum bangun itu Bos, cuma mengigau. Tidur lagi aja Bos, belum azan kok…
M: Bos? Bos…? Hellooow…?
I: Saya bilang dia belum bangun, ko ndk percaya…
M: Saya kan cuma melaksanakan tugas. Sebagai malaikat yang baik saya perlu mengingatkan Bos ke hal yang baik-baik. Kau jangan mengganggu.
I: Loh, saya kan juga cuma melaksanakan tugas sebagai iblis yang baik.
M: Iblis kok baik? Mana ada?
I: Eh salah, sori. Saya cuma melaksanakan tugas sebagai iblis yang jahat…
M: Nah, cocok! Sebagai iblis yang jahat, berarti tidak perlu melaksanakan tugas dengan baik toh?
I: Maksudnya?
M: Ya, maksudnya kalo mau jahat jangan setengah-setengah. Jahat full sekalian. Ndak perlu lah ko terlalu rajin lakukan tugasmu, sekali-sekali biarkan si Bos beribadah tanpa ko ganggu…
I: Tapi kan sebagai iblis yang baik, saya harus…
M: Looooh gimana sih…iblis kok baik?
I: DIAM!!! Jangan ko kasih bingung saya! Baik salah, jahat salah!
M: Hihihihihi…
I: Ko ndak liat ini tandukku??? Gw seruduk bolong lu!
M: Hehehe…sabar bro, jangan terlalu cepat naik darah. Nanti cepat tua…
I: Saya sensi gara-gara kau!
M: Idih, tampang serem begitu kok sensi?
I: BUKAN URUSANMU!!! Dulu saya ganteng nah!
M: Sekarang?
I: SHUT UP!!!
M: Jiaaah, kebarat-baratan skalleee…
Dan pada saat itu azan Subuh pun berkumandang. Saya segera bangkit terduduk di pinggir ranjang. Samar-samar masih terdengar percakapan Usman dan Ruslan.
I: Cihuuuyy…ndak jadi Tahajud si Bos. Toss dulu brur!
M: Enak aja toss! Dasar tanduk keparat. Saya potong tandukmu, botak lu!
I: Hihihihi…sudah ah. Wudhu yuk…
M: Yuk
Dan itulah akhir dari perdebatan Subuh itu. Usman dan Ruslan memang seperti anjing dan kucing. Dan kadang kekanak-kanakan. Saya pengen sekali tahu ada apa dengan kisah cinta si Ruslan, kenapa karier keiblisannya sempat terhambat beberapa ribu tahun. Mungkin lain kali dia akan lebih terbuka menceritakannya.
Dan hari itu lagi-lagi saya melewatkan Tahajud. Bukan karena siapa-siapa, tapi karena saya sendiri.
Sunday, 11 August 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment